Ulasan Film Abadi Nan Jaya (2025)



Abadi Nan Jaya dibuka dengan cukup menjanjikan. Ketegangan berhasil dibangun dengan baik. Suasana desa yang tenang dan serangan yang mendadak berhasil menciptakan daya tarik tersendiri. Sayangnya ketegangan itu tidak bertahan lama. Seiring berjalannya cerita film justru semakin kehilangan daya pikat. Emosi yang dibangun di awal menjadi kendor dan terasa datar. Saya merasa tidak lagi terhubung dengan situasi yang terjadi.


Karakter-karakter dalam film juga menjadi menjadi sumber kekecewaan. Alih-alih memberikan keputusan yang logis atau setidaknya masuk akal dalam situasi genting, tindakan mereka sering terasa bimbang dan tidak konsisten. Ada momen-momen di mana saya tidak yakin apakah mereka berusaha bertahan hidup atau hanya sekadar menunggu cerita selesai. Mereka seperti tahu mereka sedang dalam film, tapi tidak tahu harus berbuat apa. Tidak jelas apa yang ingin mereka selamatkan, selain sekadar lari dan bersembunyi. Kepanikan yang seharusnya bisa menjadi sumber drama justru berubah menjadi kebingungan.




Bagian yang paling terasa janggal dan kocak adalah soal teknologi. Film ini berlatar di masa kini. Udah ada tv datar, game online, bahkan mobil listrik. Para karakter juga menggunakan ponsel pintar, bahkan ada yang memakai model lipat yang cukup mewah. Tapi perangkat itu tidak dipakai untuk menghubungi siapa pun, tidak untuk mencari pertolongan, tidak untuk bertanya ke dunia luar. Tidak ada satu pun orang di situ yang kepikiran untuk bikin viral kejadian di desa tersebut agar bantuan bisa secepat datang. Seolah-olah teknologi di film hanya dijadikan properti, bukan bagian dari cerita. Dan itu membuat situasi daruratnya tidak terasa masuk akal. Di momen itu saya merasa dunia cerita yang sedang dibangun menjadi sangat goyah, karena naluri survivalnya seperti diabaikan.


Yak secara keseluruhan film ini terasa serba nanggung. Abadi Nan Jaya terasa seperti film yang punya awal yang kuat, tapi tidak punya tenaga untuk mencapai akhir yang memuaskan. Ide lokalnya menarik, penyebaran virus zombie dari jamu misterius di sebuah desa di Jawa. Suasananya juga sudah cukup meyakinkan, tapi eksekusinya tidak sepenuhnya utuh. Saya menyukai niatnya, namun tetap sulit merasa puas ketika ceritanya berjalan setengah hati. Tindakan karakter yang tidak konsisten dan celah logika yang besar membuat saya merasa sangat tidak puas. Saya memberi nilai dua bintang dari lima. Nilai ini saya rasa sesuai dengan kekecewaan yang saya alami setelah menontonnya. 


IMDb: 5,3/10
RT Score: 🍅75%/🍿25%
MetaScore: --
Letterboxd: 2,4/5
Ulasanzul: 2/5



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ulasan Film Avatar: Fire and Ash (2025)

Ulasan Film "Batman Returns" (1992)

Ulasan Film "Batman & Robin" (1997)