Ulasan Film "Budi Pekerti" (2023)

Re-flek-si 



Menonton film Budi Pekerti di hari kemerdekaan mungkin bukan waktu yang tepat. Bukannya terhibur saya malah dibuat berpikir dan berusaha mencari makna dari film ini. Saya pikir film Budi Pekerti ini berani mengangkat tema yang kekinian dan juga relevan yaitu bagaimana seorang guru yang diteladani harus menghadapi badai viral hanya karena satu momen emosionalnya terekam dan menyebar. Latar Jogja dan suasana pandemi yang digambarkan sukses bikin film ini terasa sangat realistis dan dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Film ini adalah potret cermat tentang betapa mudahnya reputasi seseorang hancur oleh satu kesalahan di era digital.

Namun, sayangnya semakin diikuti alur ceritanya justru semakin melebar ke mana-mana dan kehilangan fokus dari konflik utamanya. Alih-alih mendalami psikologi Bu Guru, film ini malah menghadirkan adegan saling tuduh dan klarifikasi yang terasa berbelit-belit. Saya setuju dengan pendapat yang menilai karakter Bu Guru Prani sebagai sosok yang terlalu 'putih' dalam artian Bu Guru selalu merasa benar dan membela diri, sementara masyarakat dan warganet digambarkan terlalu 'hitam' karena diperlihatkan sebagai pihak yang kejam dan memperkeruh suasana. Ada sebuah ironi yang terang benderang yang ingin sekali dipertontonkan di film ini. Jadi nuansanya sengaja dibuat tidak nyaman dan ada kesan menggurui. 


Banyak adegan simbolis yang saya lihat di film ini, tapi ada satu adegan yang benar-benar ingin dilihat dengan banyak makna yaitu saat Bu Guru dan muridnya yang tiduran di kolam dekat wc itu. Adegan ini memang unik, tetapi terasa dipaksakan dan sulit dipahami maknanya. Penyelesaian akhirnya pun bagi saya kurang nendang, keputusan Bu Guru untuk keluar terasa seperti jalan pintas yang anti-klimaks untuk menyelesaikan konflik yang sudah dibangun. Ditambah lagi subplot anak-anaknya yang ikut terdampak karena kasus tersebut, lalu ada pembelaan dari para alumni yang pernah dikasih refleksi sama Bu Guru, dan terakhir ada masalah bapaknya yang kurang digali tapi tiba-tiba hilang dan kembali begitu saja malah bikin saya bertanya-tanya apa maksudnya dari semua adegan itu.

Secara keseluruhan, saya sangat mengapresiasi niat dan keberanian film Budi Pekerti untuk mengangkat persoalan kompleks di dunia pendidikan dan budaya viral yang masih jarang disentuh oleh film Indonesia lainnya. Pemilihan latar dan suasana di Jogja berhasil menciptakan realisme yang kuat, sementara performa para pemainnya juga patut diacungi jempol. Film ini berhasil memancing diskusi tentang makna budi pekerti yang sebenarnya, jauh melampaui teori yang selama ini hanya dipelajari di bangku sekolah.

Pada akhirnya, saya merasa film Budi Pekerti bukanlah film untuk semua orang. Film ini cukup lambat dan cocok untuk penonton yang punya pemikiran terbuka serta menyukai analisis metafora di balik adegan-adegan yang menarik perhatian. Kalau ada yang mencari hiburan ringan dan alur yang jelas, film ini mungkin bukan pilihan yang tepat. Namun, jika ada yang tertarik melihat eksplorasi gaya bercerita yang berbeda, mungkin film ini bisa dicoba.



IMDb: 8,0/10
RT Score: --
Letterboxd: 3,7/5
Ulasanzul: 3/5



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ulasan Film Avatar: Fire and Ash (2025)

Ulasan Film "Batman Returns" (1992)

Ulasan Film "Batman & Robin" (1997)