Ulasan Film Home Sweet Loan (2024)
Home Sweet Loan berkisah tentang seorang pekerja kantoran yang sedang berjuang dengan mimpi besarnya yaitu memiliki rumah sendiri. Okelah film ini banyak memberikan adegan yang relevan serta akurat dengan banyak orang yang berada di kelas menengah. Tapi yaa hanya itu yang dijual selebihnya hanya glorifikasi seorang 'sandwich' katanya. Padahal menurut saya sosok Kaluna ini gak terlalu 'sandwich', karena secara definisi aja sandwich itu dihimpit dari atas dan bawah. Nah ini tanggungan Kaluna itu cuma ke atas alias orang tuanya dan keperluan rumah doang ga ada tuh yang ke bawah. Udah gitu gak dijelasin barang sedikit saja gitu satu adegan mungkin tentang profil kakak-kakaknya kenapa masih tinggal bareng, kerjaannya apa, alasan kuat yang membuat mereka terpaksa tinggal bareng di rumah peninggalan engkongnya tersebut.
Hal ini penting untuk dijabarkan karena akan menjadi pemicu yang solid buat Kaluna untuk bisa membeli rumah impian. Kalau hanya diberikan adegan-adegan berisik kayak dimanfaatin lah, disepelekan lah, diganggu bocil lah, bahkan dikucilkan hingga terpojok ke kamar pembantu mah gak terlalu kuat menurut saya. Jatuhnya malah gak ada ikatan yang kuat sama keluarganya, padahal kan sudah hidup bareng bertahun-tahun. Lagian dia kan masih single kenapa harus segera banget dia yang punya rumah, yang harusnya punya mah ya kakak-kakaknya itu lah, minimal ngontrak kek kalo belum mampu.
Film ini seolah-olah menggambarkan kondisi keluarga kakak-kakaknya itu nganggur gak punya kerjaan, jadinya kayak mereka menggantungkan hidupnya pada Kaluna seorang. Padahal kan harusnya yaa nggak usah yang sedramatisir itu juga. Pasti mereka punya alasan-alasan kuat juga kenapa bisa gitu tapi ya sayangnya gak diceritakan secara detail. Pasti akan lebih menarik jika sudut pandang ini diperlihatkan dengan jelas. Alhasil film ini hanya ingin menampilkan sisi kepahlawanan Kaluna yang bisa menjadi tulang punggung bagi seluruh anggota keluarga besar tersebut.
Selain itu konflik yang ada di dalam film ini bisa dibilang setipis tisu. Hal ini disebabkan karena ketidakjelasan peran kakak-kakaknya dalam motivasi Kaluna yang ingin segera pindah dari rumah orang tuanya. Kurang banyaknya porsi yang dimiliki kakak-kakaknya membuat masalah seakan muncul tiba-tiba tanpa ada pembangunan yang baik sehingga adegan puncak yang seharusnya meledak malahan jadi datar. Padahal udah bagus banget tuh pembahasan konfliknya mengenai sertifikat ganda dan pinjaman online. Ehh ujung-ujungnya Kaluna juga yang harus menyelesaikan masalah keluarga ini dengan mengorbankan tabungannya untuk membeli rumah. Udah gitu di akhir film malah pada pergi masing-masing karena pada akhirnya rumah engkong tetap terjual. Kalo gitu jadinya kenapa gak dari awal aja ya? Haduh gak habis pikir saya sama keputusan keluarganya. Seolah-olah hanya ingin menyiksa mental Kaluna aja.
Kalau ada hal yang perlu diapresiasi mungkin terletak pada karakter Kaluna. Dia diperlihatkan sebagai orang yang sederhana, memiliki pendirian yang kuat, dan sangat berhemat. Berbeda dari teman sirkelnya, Kaluna digambarkan tidak mudah ikut arus dan lebih memilih gaya hidup apa adanya. Ekspresi Kaluna juga sangat beragam dan ditonjolkan dengan baik. Ada sedih, pasrah, marah, kecewa, dan menerima. Tampangnya yang lempeng aja saat berada di rumah berhasil memberikan kesan hidup yang penuh dengan tekanan. Keresahannya itu nyata dan terasa valid. Saya suka keputusannya untuk kabur sejenak saat kondisi rumah benar-benar membuatnya tidak nyaman seakan ini adalah konklusi dari kekecewaan terhadap keluarga yang terus membebaninya.
Yak secara keseluruhan film Home Sweet Loan memiliki tema yang menarik dan sangat terhubung bagi sebagian penonton. Karena film ini mengambil nilai realisme yang tinggi, maka bisa dikatakan Home Sweet Loan berhasil menjual unsur relevansi yang kuat. Keterkaitan ini biasanya sering dialami orang kelas menengah yang kesulitan dalam meraih impian dan harapannya. Mungkin saja dalam hal pembangunan emosi di film ini tidak dirancang menanjak dari awal, tapi dengan adanya masalah krusial yang menghancurkan harapan Kaluna sudah cukup lah mengiris perasaan. Pada akhirnya film ini hanya bisa diambil hikmahnya saja, karena mengharapkan seorang penyelamat seperti Danan di dunia nyata itu langka banget coy. Sebuah penutup film yang sangat apalah......
IMDb: 8,0/10
RT Score: --
Letterboxd: 3,7/5
Ulasanzul: 3/5



Komentar
Posting Komentar
Silahkan komentar, bebas asal sopan dan relevan.