Ulasan Film "Batman Forever" (1995)

Batman Forever hadir dengan nuansa yang lebih terang dari dua film pendahulunya. Ini berkat pergantian sutradara dari Burton ke Schumacher. Setting tempatnya diperluas dan menampilkan lebih banyak variasi bangunan bahkan ada sirkus di Gotham. Dari segi kostumnya kini ada perubahan yang memang diperlukan dan sedikit lebih berwarna dan rasanya memang pas untuk alur ceritanya kali ini yang menampilkan villain Two Face dan Riddler yang benar-benar aneh dan gila.



Schumacher membuat perubahan signifikan dalam kelanjutan dari kisah Batman. Bukan hanya para pemerannya yang berganti dari Michael Keaton ke Val Kilmer, tapi juga dari cara penggambaran Batman. Dalam dua film sebelumnya, sosok Michael Keaton yang berperan sebagai Bruce dan Batman itu dianggap punya karisma yang cukup kuat. Namun, karakter playboy yang dimiliki Bruce tidak cukup berhasil ditampilkan terasa masih kaku kalau berurusan dengan lawan jenis.

Berbeda dengan Keaton, Kilmer secara fisik terasa jauh lebih meyakinkan dan punya pesona tersendiri sebagai Bruce maupun Batman. Sayangnya, cerita yang kurang solid membuat penampilannya kurang berkesan. Film ini minim sekali memunculkan unsur emosional dari segi cerita. Dalam beberapa adegan, terlihat transisi dari Batman yang gelap dan tersiksa menjadi Batman yang akhirnya dapat menaklukkan iblis pribadinya dan menjadi lebih bahagia berkat bantuan jurnalis dan ilmuwan muda, Chase Meridian. Untuk yang satu ini bagus, karena pada dasarnya seorang hero butuh tempat untuk berbagi.



Kehadiran dua villain sekaligus membuat film karya Schumacher ini nyaris berjalan tanpa basa-basi dan tempo yang cukup cepat. Hal tersebut mengakibatkan pendalaman karakternya terasa kurang mendalam. Otomatis hanya sosok The Riddler yang paling tersorot dengan latar belakang yang berkaitan dengan Bruce Wayne serta motif balas dendamnya yang memang sangat nyeleneh. Hal ini mengakibatkan sosok villain yang terasa jauh lebih dominan mirip seperti Batman Returns.

Salah satu kelebihan film ini adalah kostum serta alat-alat baru dari Batman yang belum pernah ditampilkan. Walau hal itu menjadi elemen yang biasa aja saat ini, tapi pada saat itu secara tampilan alat-alatnya terasa sangat futuristik. Pengenalan rekan Batman yaitu Robin Dick Grayson menarik perhatian. Dia punya kisah origin yang masuk di dalam alur cerita dan saya rasa cukup bagus. Motivasinya untuk menjadi seperti Batman dalam melawan kejahatan patut didukung.

Secara keseluruhan, seri ketiga adaptasi modern film Batman ini cukup meriah dan dinamis. Film ini pada dasarnya merupakan sisi yang lebih ringan dari karakter Batman. Schumacher berhasil memaksimalkan pengalaman menonton menjadi lebih menyenangkan dengan membuatnya jadi ramah anak dan dapat dinikmati oleh semua kalangan. Walaupun jalan ceritanya cukup lurus aja ditambah lagi dengan nuansa cukup bertolak belakang dengan film pendahulunya, Batman Forever tetap mengasyikkan dengan urutan aksi yang cukup hebat.




IMDb: 5,5/10
RT Score: 🍅41%/🍿33%
MetaScore: 54/100
Letterboxd: 2,6/5
Ulasanzul: 2,5/5




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ulasan Film Avatar: Fire and Ash (2025)

Ulasan Film "Batman Returns" (1992)

Ulasan Film "Batman & Robin" (1997)