Ulasan Film "The Kid" (2000)
Jika dikasih kesempatan untuk bertemu dengan diri sendiri sebagai anak berusia 8 tahun, apakah anak itu akan senang dengan diri kita yang sebenarnya? Dalam kisah Russ, jawabannya adalah "Tidak!"
Russ Duritz (Bruce Willis) yang sebentar lagi menginjak usia 40 harus dihadapkan dengan peristiwa unik di mana ia kedatangan sesosok anak kecil yang ternyata adalah dirinya sendiri. Ternyata kedatangannya bukan tanpa alasan melainkan ingin memberikan tamparan halus yang membuatnya sadar bahwa kehidupan yang sekarang bukanlah keinginannya.
Sudah lama saya ingin menonton film ini karena entah kenapa ada firasat bahwa film ini membawa pesan yang tepat untuk kondisi yang sedang saya alami saat ini. Dan akhirnya saya dapat melihatnya dalam waktu yang tepat. Film ini rasanya seperti berjalan di alam mimpi yang berusaha untuk memberi tahu kepada kita semua untuk bisa menuntaskan luka masa lalu yang terus menekan pikiran selama bertahun-tahun.
Ketika menonton film The Kid, saya dibawa pada pengalaman pahit di masa lalu, menjadi korban bully dan beban tanggung jawab yang besar dari orang tua. Luka dibuka, pengalaman diingat lagi, rasa sakit diungkit lagi. Sungguh ini sebuah perjalanan yang berat. Selama proses penguatan tersebut, pola pikir memang penting untuk diselaraskan. Inilah cara untuk menyelesaikan masalah yang telah mengganggu selama ini. Tantangannya adalah apakah kita memiliki keberanian yang tinggi untuk kembali ke masa lalu dan mencari tahu apa yang menciptakan pola pikir tersebut yang sampai saat ini menghalangi kita untuk mendapatkan apa yang benar-benar diinginkan dalam hidup. Bukan kehidupan palsu yang dialami Russ di awal film.
Dalam perjalanannya memang tidak mudah, banyak rintangan berat dan sisi yang terjal. Butuh kejujuran, kerendahan hati untuk mau mengakui, dan kerelaan diri untuk menerima segalanya. Hal ini yang kerap membutuhkan sosok pembimbing untuk menemani dan menguatkan diri. Tidak mungkin menjalani semua proses itu sendirian. Bila ada kesulitan, jangan tolak bantuan. Seperti halnya Russ yang dibantu psikolog dan rekan kerjanya. Sikap terus terang membuka jalan pengertian bagi orang lain yang melihatnya.
Dan kemudian saya sadar, benang-benang kusut di masa lalu tak bisa begitu saja saya urai sekaligus semuanya. Namun, harus satu persatu, dengan hati yang tenang dan menerima seutuhnya. Hingga pada akhirnya kita semua tahu, Russ berhasil berdamai dengan masa lalunya ketika dia bisa menitikkan air mata setelah sekian lama tertahan. Dia benar-benar melihat dan merasakan dengan hati peristiwa yang mengganjal pikiran selama bertahun-tahun yang membuatnya menjadi Russ yang congkak. Ini menandakan bahwa yang menyembuhkan luka dan trauma selama ini bukanlah waktu, tapi penerimaan diri. Juga, yang membuat kita tumbuh bukanlah lari, tapi berani menghadapinya.
Setelah sampai pada tahap penerimaan, jalan untuk mencapai impian dan cita-cita akhirnya bisa terbuka kembali. Kita bisa lebih fokus untuk meraihnya jika tidak ada beban pikiran masa lalu yang menghantui. Russ yang pada akhirnya bisa melihat gambaran dirinya yang sukses mewujudkan semua impiannya menandakan bahwa tidak ada lagi beban menganggunya menjalani kehidupan.
Jadi tetaplah terbuka terhadap segala kemungkinan yang ada. Mungkin tidak selamanya hidup berjalan mulus. Pada titik tertentu kita masih bisa terjebak dalam trauma. Mengubah pola pikir adalah kunci utama untuk keluar dari kebuntuan. Yang harus kita lakukan untuk dapat bergerak maju adalah berhenti sejenak dan luangkan waktu untuk melihat ke belakang. Lewat kegagalan dan hal-hal yang terjadi di luar harapan, kita belajar akan sebuah penerimaan. Pada akhirnya walau tak sejalan, dan dulu pernah kita khawatirkan, ternyata hal itu memberi kita pelajaran berharga.
IMDb: 6,1/10
RT Score: 🍅49%/🍿49%
MetaScore: 45/100
Letterboxd: 3/5
Ulasanzul: 4,5/5


Komentar
Posting Komentar
Silahkan komentar, bebas asal sopan dan relevan.