Ulasan Film "Kembang Api" (2023)
⚠️ Trigger Warning ⚠️
"Kita sebagai manusia sebaiknya lebih sadar dan peka dalam melihat tanda-tanda orang yang punya kecenderungan untuk bunuh diri, dan bukannya menghakimi mereka yang mencoba melakukannya."
Tak seperti mati yang mungkin bisa terjadi dengan cepat, kehidupan merupakan sebuah proses yang terkadang menyakitkan. Jatuh bangun pasti terjadi, dan karenanya manusia sudah seharusnya saling menguatkan sesama. Seperti halnya grup kembang api ini, yang awalnya ingin sekali meledak bersama pada akhirnya jadi tempat curhat untuk saling menguatkan sesama.
Film kembang api berjalan sebagai film pencegahan bunuh diri. Tidak sekalipun film ini menganggap remeh masalah yang dialami oleh setiap karakter. Masalah mereka benar-benar diperlihatkan membebani, ada alasan kuat kenapa mereka memilih untuk mati, karena memang sekilas hanya itulah jalan yang harus ditempuh.
Menonton film ini mengingatkan saya pada diri saya sendiri. Khususnya pada karakter Anggun yang kisahnya sangat relate dengan saya yaitu sebagai korban bully dan abuse. Sedikit bercerita, saya pernah berpikiran sama dengannya. Saat lagi di titik terendah, saya menganggap hal ini merupakan satu-satunya jalan keluar. Saya merasa lebih baik mengakhiri hidup daripada harus menghadapi kenyataan yang pahit. Namun memang pada akhirnya saya membatalkan rencana tersebut karena saya nggak mau jadi headline berita yang dapat menyebabkan komentar miring karena ketidaktahuan cerita yang sebenarnya. Selain itu saya malah memikirkan nasib keluarga saya terutama orang tua saya yang harus menanggung duka yang begitu dalam serta omongan tetangga yang pedas. Saya tidak ingin membebankan itu semua. Maka dari itu saya memilih untuk tetap hidup dan melanjutkan perjalanan.
Jadi saya cukup paham, sudut pandang yang dirasakan orang ketika memutuskan untuk menamatkan hidupnya sendiri. Kesan yang diberikan lebih terhormat jika bisa tuntas bunuh diri tanpa ada bantuan, karena kita yang punya kendali penuh atas diri sendiri. Maka dari itu, kita tidak bisa menyepelekan begitu saja tindakan bunuh diri, karena itu berkaitan langsung dengan pribadinya. Orang yang sempat memiliki keinginan untuk bunuh diri, sebenarnya tidak benar-benar ingin mengakhiri hidup mereka. Di dalam lubuk hati yang terdalamnya, mereka hanya ingin mengakhiri penderitaan yang mereka alami, yang pada saat itu terasa sangat perih dan menyiksa, seakan-akan berada di jalan buntu. Tidak menyadari tanda yang diberikan mereka bukan tidak mungkin membuat hal tersebut menjadi lebih parah.
Perdebatan karena adanya anak muda yang ikut ke dalam grup ini memberikan secercah harapan untuk dapat memikirkan kembali rencana kembang api. Dari diskusi para karakter berujung pada refleksi terhadap masalah masing-masing tersebut. Yang pada akhirnya, membuat anggota grup kembang api diberikan kesempatan untuk saling berbagi cerita dan berkaca atas apa telah dilalui. Nah di titik inilah yang sebenarnya mereka butuhkan, mencurahkan isi hati dan pikiran tentang hidup yang kompleks.
Namun dalam kenyataannya, sangat jarang sekali orang yang mau duduk dan mendengarkan masalah kita. Soalnya, bukan cuma masalahnya aja yang kadang sulit diceritakan, buat didengar dengan jujur sama diri sendiri aja kadang susah. Seringkali denial sama apa yang sedang dihadapi. Apalagi sama orang lain, yang belum tentu aman dan berkenan menyimaknya. Akhirnya hanya dipendam dan lama kelamaan akan menjadi bom waktu yang dapat mencederai berbagai pihak yang tak bersalah. Padahal dampak dari berbagi cerita dan didengerin tuh memang sekuat itu. Bisa membantu kita untuk tetap bertahan menghadapi segala tantangan yang ada.
Memang setiap orang pasti punya masalahnya sendiri, tapi kita sebenarnya tidak pernah sendirian. Kita bisa berbagi cerita untuk sama-sama saling mengingatkan, mendukung, dan menguatkan, serta bisa terus melanjutkan hidup kembali. Saya berharap untuk semua orang yang sedang berjuang semoga bisa semakin kuat dan membaik.
"Irup iku Urup"
IMDb: 7,0/10
RT Score: Not available
MetaScore: --
Letterboxd: 3,2/5
Ulasanzul: 4/5



Komentar
Posting Komentar
Silahkan komentar, bebas asal sopan dan relevan.