Ulasan Film "Valentine" (2017)
Valentine didasarkan pada karakter superhero dari Skylar Comics asal Indonesia. Jelas, Skylar bukan DC atau Marvel. Namun, karakter ini jelas menarik. Menurut saya aksinya dibuat lebih baik daripada film lokal yang pernah saya lihat.
Sebagai kisah origin superhero, ini sudah layak. Saya telah membaca beberapa ulasan pedas di sini dan saya tidak berpikir itu benar-benar pantas. Perlu diperhatikan bahwa ini bukanlah film Hollywood musim panas dengan anggaran yang fantastis. Jika menempatkan film ini berada di kasta yang sama dengan Wonder Woman atau Black Widow, ya pasti akan ada rasa kecewa. Bagi saya sendiri, 1 jam 56 menit itu sama sekali tidak saya sesali. Justru menambah wawasan tentang khazanah superhero Indonesia. Senang rasanya mengetahui valentine telah tersedia di pasaran. Oh iya sekedar info, saya nontonnya yang versi director cut secara legal di aplikasi streaming STRO.
Berasal dari kota fiksi bernama batavia, Valentine berhasil menjalankan formula klasik film superhero dengan baik. Dilihat dari ceritanya yang cukup dalam dan unik, kisahnya dimulai dari upaya sutradara amatir yang mencoba meyakinkan produser film untuk membuat film superhero dengan menunjukkan kepada masyarakat aksi superhero yang nyata. Namun apa daya pada saat itu genre tersebut belum terlalu populer, otomatis ditolaklah oleh sang produser. Tidak kehabisan cara, akhirnya sang sutradara mengunggah film amatirnya ke internet tentang aksi membela kebenaran yang selama ini memang dibutuhkan, Valentine membuat dampak nyata pada kejahatan yang ada dan memberi harapan bagi masyarakat.
Pada dasarnya saya sangat menyukai aspek jadul dari film ini. Dalam banyak hal ini, film ini mirip dengan Spider-Man, karena sang pahlawan yang diperankan oleh Estelle Linden memulai dengan perlengkapan seadanya. Kostumnya buatan rumah, dia putus sekolah, dia bekerja di kafe, dan timnya mengendarai van tua. Modal anggaran nol dalam pembuatan video amatir yang dimulai dengan tampilan yang buruk dan secara bertahap berkembang menjadi versi yang keren. Dengan kata lain, dia adalah kebalikan dari miliarder seperti Iron Man atau Batman, yang memulai dengan peralatan dan pelatihan terbaik yang dapat dibeli dengan uang dan kemudian menyesuaikannya lebih jauh. Saat Valentine dipukul, dia sakit setelah pertarungan. Dia mengalami memar dan memohon untuk diberikan pelatihan tambahan dan perlindungan ekstra di bagian vital. Cukup realistis. Tim Valentine perlahan-lahan mulai disorot dan mengambil sedikit uang yang mereka dapat kumpulkan bersama untuk meningkatkan perlengkapannya sepanjang film berlangsung.
Jadi, filmnya memang awalnya terlihat konyol tetapi menjadi serius dengan cepat. Evolusi kostumnya mengalami perkembangan yang bagus, menunjukkan tahapan yang tadinya dari aktris amatir menjadi pejuang kejahatan yang peduli pada orang yang tertindas. Eksekusinya hampir setara dengan film Gundala. Koreografi pertarungan bagus dan jelas bahwa Estelle Linden memiliki pengalaman seni bela diri yang nyata. Beberapa emosi yang disampaikan agak aneh. Tapi masih termaafkan karena itu penting untuk membangun cerita.
Sang sutradara menggunakan beberapa metode sinematografi yang sangat artistik seperti banyak sudut, pantulan, dan transisi tanpa gangguan untuk menyampaikan emosi. Bagus sekali. Alur ceritanya tampaknya ditulis dengan baik. Saya berasumsi ini mirip dengan buku komiknya dan saya percaya bahwa emosi para karakternya bisa diterima. Efek visual memang agak kurang, tapi untuk film Indonesia, ini tidak terlalu mengerikan. Aktingnya sebagian besar layak, tetapi dialog yang agak kaku memang menghilangkan sebagian momentum dan kegembiraan film.
Satu hal lagi yang saya suka dari film ini yaitu detail kecil yang tetap diperhatikan seperti:
- plat kendaraan fiksi yang diganti seluruhnya untuk sebuah kota Batavia,
- lalu pas adegan di minimarket tidak ada produk yang disensor ini jelas menambahkan unsur realistis,
- terus pada saat adegan penyelamatan di Bank, banyak penonton mungkin merasa heran mengapa para polisi di bank tidak langsung menembakkan senjata mereka ke para gangster, itu menandakan bahwa film ini bukan tipikal hollywood yang apa-apa harus diselesaikan dengan kekerasan. Ini film Indonesia yang masih memegang teguh nilai ketimuran. ini jadi semacam pernyataan yang cerdas untuk memberi tahu betapa terbiasanya kita sebagai penonton film terhadap kekerasan yang tidak beralasan.
Oke secara keseluruhan film ini memang nggak seburuk yang dikira. Masih bisa dinikmati. Saya akan mengatakan ini bagus untuk ukuran film adaptasi komik, dan saya memuji upaya yang dilakukan oleh para pemain dan kru untuk membuat film ini menjadi layak untuk dapat diterima oleh masyarakat luas. Film ini sangat berharga dalam sejarah perkembangan film superhero Indonesia. Aksinya jauh lebih baik dari yang saya harapkan. Valentine punya hati dan mencoba untuk bergerak semaksimal mungkin dengan tetap teguh dalam pendiriannya.
IMDb: 4,8/10
RT Score: 🍅--%/🍿72%
MetaScore: --/100
Letterboxd: 2,7/5
Ulasanzul: 4/5



Komentar
Posting Komentar
Silahkan komentar, bebas asal sopan dan relevan.