Ulasan John Wick Chapter 3 - Parabellum (2019)

Sebelum saya mulai mengulas mungkin ada yang bertanya-tanya, apa itu Parabellum? mengutip dari Wikipedia, jadi Parabellum berasal dari peribahasa latin yaitu "Si vis pacem, para bellum" yang artinya "Jika kau mendambakan perdamaian, bersiap-siaplah menghadapi perang.

Nah ternyata peribahasa ini bukan tanpa alasan dijadikan subjudul film ini, karena pada dasarnya ini adalah perang seorang John Wick melawan semua orang akibat aksinya melanggar aturan di Hotel Continental. Menjadikannya sebagai orang yang paling diburu seantero dunia. Hadiahnya tidak main-main yaitu $14 juta untuk kepalanya dan seluruh dunia kriminal otomatis mengejarnya.


Angsuran ketiga dari kisah John Wick ini berjalan tepat pada saat film kedua berakhir. Film ini memiliki laju yang cepat, tanpa banyak basa basi dan juga tetap fokus pada benang merah cerita dari Chapter sebelumnya. Kali ini hanya satu misi yang harus John Wick lakukan yaitu bertahan hidup. Setelah sebelumnya ia membuat kekacauan di dunia hitam tempat para mafia dan penjahat kelas atas bersarang, nyawanya pun menjadi tagihan yang harus ditebus.

Dari segi ceritanya, Parabellum kembali lagi ke formula yang sederhana dan mengalir, membuatnya mudah untuk diikuti. Film ini sudah terasa intensitasnya sejak menit pertama dimulai. Masih menonjolkan aksi pertarungan yang luar biasa, ketegangan John Wick sangat diperlihatkan ketika waktu perburuan sudah bergulir. Cobaan datang bertubi-tubi menguji seberapa tangkasnya ia melawan. Adegan kejar-kejaran, tembak-tembakan tanpa henti, hingga baku hantam satu lawan banyak pun terus terjadi. Rasanya mata tak ingin berkedip karena tak ingin melewatkan sedetik pun adegan di film ini karena memang seasyik itu dan semuanya dieksekusi dengan baik.


Jika harus dibandingkan, film ini lebih terasa lebih emosional daripada kedua pendahulunya. Pondasi dan rintangannya lebih kuat. Semesta yang dibangun oleh dalam Chapter 3 ini juga semakin meluas, bahkan mengisi beberapa kekosongan latar belakangnya. Sistem organisasi bawah tanah yang tersusun rapi, wilayah-wilayah baru yang diperlihatkan, fraksi bantuan yang tak diduga, dan karakter baru yang cukup jelas eksplorasinya. Semua ini sangat membantu terjalinnya alur cerita yang proporsional dan masuk akal.


Bisa dikatakan bahwa John Wick mungkin adalah seorang pria paling tangguh yang pernah ada, atau mungkin yang pernah saya tonton. Bukan hanya karena dia bisa membunuh tak seperti kebanyakan orang lain, tapi karena dia bisa menerima pukulan, tusukan, bahkan tembakan, dan tetap bangkit hingga dia berhasil meraih kemenangan. Mengingatkan saya akan karakter Ito di film The Night Comes for Us yang overpowered tapi tetap keren.

Selain itu, kehadiran Zero yang dimainkan oleh Mark Decascos dan anak buahnya memberikan angin segar di film ini lewat aksi tarung tanpa pistol yang ditampilkan. Kang Yayan dan Kang Cecep yang berkesempatan menjadi bawahannya pun tidak kalah seru, kombinasi pencak silat dengan senjata tajam di film ini semakin menambah kepuasan. Tidak ada kata lagi selain bangga karena mereka bisa beradu akting dengan Keanu Reeves di film Hollywood. Tidak menyangka juga bahwa seorang John Wick bisa Bahasa Indonesia. Jadi penasaran apakah di franchise ini ada Hotel Continental Indonesia? Bisa banget nih dibikin spin off. Hehe.



Secara keseluruhan John Wick Chapter 3: Parabellum adalah film aksi memuaskan. Film ini menyimpan kejutan yang membuat intrik dan konflik jadi lebih menarik dan memberikan nilai tambah dari film sebelumnya. Saya mengapresiasi seluruh orang yang terlibat dalam pembuatan film yang keren ini, khususnya untuk sang sutradara Chad Stahelski yang dengan hebatnya memberikan sajian berbagai macam adegan aksi yang tak berkesudahan dari awal hingga akhir film tanpa membuat saya bosan sedikit pun. Bisa dibilang Chad berhasil menjaga nuansa apik di sepanjang film sehingga siapa pun yang menontonnya akan selalu terbawa ke dalam mewahnya dunia John Wick.


IMDb: 7,4
RT Score: 🍅89%/🍿95%
MetaScore: 73/100
Letterboxd: 3,7/5
Ulasanzul: 4,5/5

Komentar